Raga Kartini telah lama pergi ke pangkuan Ibu Pertiwi, namun jiwa jua ambisi Kartini tak berarti gugur bersama jasad melainkan bersemayam pada sesosok diri. Seorang ibu meski bukan dari darah biru, ia tetap membawa pesan dan amanah dari Kartini. Padaku ia berjanji untuk menghantarkan pada gemilang prestasi, ia juga menjadi benteng bagi diri ini. Baginya, Kartini ialah sang inspirasi.
Bulan April identik dengan peringatan Hari Kartini. Peringatan ini untuk merayakan hari kelahiran seorang pahlawan nasional perempuan yang berjuang untuk emansipasi wanita, yaitu Raden Ajeng Kartini. Tapi bagiku, bulan April tidak hanya berarti itu.
Tanggal 21 April aku juga memperingati hari kelahiran seorang pahlawan keluarga yaitu Ibuku, Kartini dalam hidupku. Meskipun ibu bukan pahlawan Nasional seperi Kartini, ibu tetap pahlawan dalam keluargaku.
Ketika masyarakat sibuk menyambut perayaan Hari Kartini dengan meriah, aku, adik, dan ayah juga menyambut perayaan hari lahir ibu di rumah, meskipun tidak meriah hanya dengan lantunan do’a dan ucapan bahagia, ibu tidak pernah mengeluh. Itu hebatnya ibu, sederhana dan merasa cukup dengan apa yang ada di sekitarnya.
“Berbeda, Ibu bukan Kartini”, jawaban ibu ketika aku mengucapkan selamat Hari Kartini padanya. Ibu mengelak, padahal tidak ada yang berbeda, mereka sama-sama wanita tangguh. Bagiku ibu tetap menjadi Kartini dalam hidupku.
Sosok Kartini dikenal dengan perjuangannya terhadap hak-hak emansipasi wanita. Sama dengan Kartini, ibuku juga dikenal sebagai pejuang dalam keluarga. Perjuangannya selama ini sangat berarti bagi keluargaku.
Begitu banyak yang ibu perjuangkan, perjuangan yang hebat untuk anak-anaknya, perjuangan untuk suami nya, serta perjuangan untuk benteng dirinya. Ibu tidak pernah berusaha menjadi orang lain agar dibanggakan, ibu sudah cukup membanggakan dengan tetap menjadi dirinya sendiri.
Tidak hanya berjuang untuk memberikan kasih dan sayang yang tulus, ibu juga berjuang untuk prestasi anak-anaknya, memberikan ilmu dunia akhirat, berjuang selalu ada setiap waktu untuk keluarganya, mendampingi anak-anaknya menuntut ilmu, menyiapkan makan, menyiapkan pakaian, dan segala kebutuhan hingga ibu rela menyiapkan seluruh raganya demi keluarga.
Perjuangan yang banyak ibu berikan sangatlah berharga bagiku, semua jasa yang ibu tawarkan sangatlah istimewa, tidak ada yang bisa menggantikan sosok mu dalam hidup ini, barang yang sangat berharga pun tidak sebanding dengan dirimu.
Tidak hanya untukku, Ibu adalah wanita paling berjasa untuk semua insan manusia di dunia. Terlahir dari rahimnya, dikandungnya selama sembilan bulan, hingga melahirkan, merawat dengan penuh kasih sayang. Tak pernah ada keluh kesal yang muncul dari nya, ibu begitu ikhlas tanpa pamrih, tanpa imbalan, cukup melihat anaknya tumbuh dengan sehat sudah membuatnya bahagia.
Hanya terima kasih ku padamu ibu untuk semua jasa dan perjuanganmu, tetaplah menjadi pahlawan yang mengisi masa kecil dan dewasaku, dan tetaplah menjadi Kartiniku. Segala do’a baikku untuk mu, Ibu. ( Viona Bono Valvinka )
