Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

10 Gunung di Pulau Jawa untuk Pendaki Pemula

Gunung Prau Dieng (Google)

Indonesia memiliki banyak sekali gunung dengan pemandangan yang indah. Namun, di pulau Jawa sendiri terdapat ratusan gunung yang tersebar di beberapa wilayah dan memiliki pemandangan yang menakjubkan.

Meski sedang pandemi, wisata gunung menjadi alasan yang tepat untuk refreshing sambil menjelajahi alam. Selain aman dari kerumunan, wisata ini juga tergolong cukup murah, dibanding dengan pergi ke luar kota, booking pesawat dan hotel jutaan rupiah.

Tapi, bagaimana jika kamu belum pernah naik gunung, atau pendaki pemula? Kira-kira gunung apa yang cocok untuk dikunjungi para pendaki pemula? Berikut rekomendasi gunung untuk pendaki pemula yang berada di pulau jawa.

1. Gunung Nglanggeran – 700 mdpl

Rekomendasi gunung untuk pendaki pemula yang pertama adalah Gunung Nglanggeran yang terletak di Yogyakarta. Gunung yang hanya memiliki ketinggian 700 mdpl ini memiliki jalur yang landai dan jalan setapak dari batu, sehingga cocok untuk pemula yang ingin belajar hiking. Kamu hanya membutuhkan waktu, kurang dari satu jam, untuk mencapai puncaknya dan menikmati Jogja dari sisi yang berbeda.

2. Gunung Pancar

Gunung Pancar menjadi pilihan yang tepat bagi yang ingin naik gunung tetapi tidak mempunyai banyak persiapan dan waktu luang. Meskipun tidak memiliki puncak, pemandangan hutan pinus yang menyejukkan dapat melepas penat pada akhir pekan.

Gunung Pancar terletak di Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan ketinggian 800 mdpl. Selain track yang mudah, pengunjung juga dapat berkemping di area sekitar Gunung Pancar serta terdapat pula fasilitas lainnya, seperti berkuda, bersepeda, dan pemandian air panas. Gunung ini cocok didaki bersama keluarga maupun sahabat.

3. Gunung Munara – 1119 Mdpl

Untuk pendaki pemula yang berlokasi di kawasan Bogor atau Jabodetabek, kamu bisa mengunjungi Gunung Munara. Di awal pendakian para pendaki akan disuguhkan jalanan yang landai, pemandangan rumah warga, jembatan, sungai, hingga curug.

Gunung yang berlokasi di Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin ini hanya memiliki ketinggian 1.119 mdpl, cocok untuk traveler yang suka mendaki.  Namun harus tetap berhati-hati karena saat memasuki kawasan puncak, medan Gunung Munara cukup terjal.

4. Gunung Andong – 1.726 Mdpl

Gunung yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini dikenal sebagai salah satu gunung yang ramah bagi pemula. Hanya dengan ketinggian 1762 Mdpl, kamu bisa menaklukkan puncak Andong, hanya dalam waktu 2 jam.

Walaupun tak setinggi gunung pada umumnya, gunung Andong tetap menarik untuk didaki. Karena, memiliki pemandangan yang keren dan jalur yang mudah ditempuh. Cocok sekali untuk yang baru pertama kali mendaki gunung.

5. Gunung Kencana – 1.796 Mdpl

Rekomendasi gunung untuk pendaki pemula di Bogor selanjutnya yaitu Gunung Kencana. Gunung yang baru diresmikan sekitar tahun 2016 lalu ini langsung menjadi primadona para pendaki untuk sekedar hiking. Bahkan banyak yang hanya ingin berburu matahari terbit, ataupun terbenam.

Memiliki jalur yang landai dan ramah pendaki pemula, kamu akan disuguhkan kebun teh di sisi kanan dan kiri sepanjang jalan. Selain itu, gunung ini juga memiliki petunjuk arah yang akan mengarahkan hingga sampai puncak, sehingga hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai di puncak.

6. Gunung Ungaran – 2.050 Mdpl

Gunung ungaran yang berada di Semarang, Jawa Tengah memiliki tinggi 2.050 mdpl. Gunung Ungaran memiliki tiga puncak yakni Gendol, Botak, dan Ungaran. Kamu bisa melihat Semarang secara keseluruhan dan jajaran gunung lainnya dari Puncak Ungaran, seperti Gunung Sumbing, Telomoyo, Merbabu, Merapi sumbing dan Sindoro.

7. Gunung Papandayan – 2.265 Mdpl

Dikenal dengan wisata gunung keluarga, Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2.265 Mdpl. Meski lumayan tinggi, namun gunung ini memiliki jalur yang landai dan asik. Gunung yang terletak di Garut Jawa Barat ini merupakan gunung terindah di Jawa Barat. Salah satu spot terfavorit yang memiliki pemandangan indah adalah hutan mati, selain itu di sini juga terdapat kawah serta kebun bunga edelweis.

8. Gunung Bromo –  2.329 Mdpl

Gunung yang terletak di empat lingkup kabupaten, yaitu Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Pasuruan ini terkena akan keindahannya. Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 mdpl dan termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Tengger Sumeru. Gunung ini tengah menjadi gunung sejuta umat yang populer. Berbagai macam paket perjalanan ditawarkan untuk berwisata di gunung ini. Banyaknya fasilitas yang ada mempermudah para pemula di semua jenis usia.

9. Gunung Ijen – 2.443 Mdpl

Terletak di ujung Pulau Jawa, yakni di Banyuwangi, Gunung Ijen menjadi rekomendasi gunung untuk pendaki pemula selanjutnya. Gunung ini, sangat populer dengan blue firenya, dan kawah belerang yang memukau. Bahkan, tak jarang lokasi ini menjadi spot foto andalan para pendaki. Kamu bisa mencapai puncak gunung dalam waktu 2 jam, dari basecamp Platidung.

10. Gunung Prau – 2.565 Mdpl

Rekomendasi gunung untuk pendakipemula yang terakhir adalah Gunung Prau, merupakan gunung yang sangat populer di kalangan pendaki. Berada di kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.  Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.590 mdpl dan terkadang suhunya bisa mencapai -5 derajat.

Pemandangan yang tersohor dari gunung ini yaitu golden sunrise yang luar biasa memesona, bahkan banyak orang yang mengatakan golden sunrise di Gunung Prau adalah terbaik se Asia Tenggara. Gunung ini cocok untuk para pemula, karena pendakian hanya membutuhkan 2-3 jam saja. (Viona Bono Valvinka)

Continue reading 10 Gunung di Pulau Jawa untuk Pendaki Pemula

Sabtu, 02 Januari 2021

5 Film Indonesia Paling Banyak di Tonton Tahun 2020

Sumber: idntimes

 

 

Pandemi yang melanda berbagai negara mengharuskan beberapa sektor hiburan ditutup, salah satunya bioskop.  Penutupan bioskop membuat produksi film Indonesia terhambat. Mengingat keadaan pandemi memuat Industri film Indonesia menjadi lesu.

Meski begitu, setidaknya ada beberapa film Indonesia yang dirilis sebelum pandemi dan berhasil meraih ratusan ribu bahkan jutaan penonton. Berikut film-film indonesia yang paling banyak di tonton tahun 2020:

1.Milea: Suara dari Dilan

Film Indonesia terlaris di tahun 2020 yang pertama yaitu Milea: Suara dari Dilan. Film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan (Dilan) dan Vanesha Prescilla (Milea) itu resmi merangkul 3,1 juta penonton. Tidak heran jika film yang menceritakan kisah cinta Dilan dan Milea ini terus membuat penontonnya penasaran.

Kisah yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq itu terus menghipnotis penggemarnya setelah dirilis pada Februari 2020. Film ini masih menceritakan perjalanan cinta Dilan dan Milea namun dari sudut pandang Dilan. Banyak cerita yang belum pernah ditampilkan pada dua film sebelumnya

2.Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Film karya Angga Dwimas Sasongko ini berhasil menjadi film yang populer tahun 2020. Diangkat dari novel karya Marchella Febritrisia Putri, NKCTHI berkisah tentang kisah keluarga yang awalnya terlihat bahagia namun mempunyai masalah dan trauma yang cukup serius.

Dibintangi oleh Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha dan Rachel Amanda. Alhasil, tak salah jika film ini sebagai film terlaris pertama yang rilis tahun 2020 karena berhasil menembus angka 1 juta penonton dalam 7 hari penayangannya di bioskop dengan total keseluruhan 2,2 juta penonton Indonesia.

3.Akhir Kisah Cinta Si Doel

Film Indonesia terbaik sepanjang tahun 2020 selanjutnya yaitu  Akhir Kisah Cinta Si Doel. Film bergenre drama romantis ini berhasil meraih penonton sebanyak 1,1 juta penonton Indonesia. Bagi kamu yang mengikuti kisah cinta Doel, Sarah dan Zaenab, film ini sangat dinantikan.

Dibintangi oleh Rano Karno, Maudy Koesnadi, dan Cornelia Agatha, film Akhir Kisah Cinta Si Doel berkisah tentang Doel yang harus memilih antara hidup dengan Zaenab yang tengah hamil atau rujuk kembali dengan Sarah dan membangun kehidupan baru demi sang buah hati.

4.Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2

Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 merupakan Film bergenre horor yang dibintangi oleh Chelsea Islan, Baskara Mahendra, Widika Sidmore, dll.  Film ini adalah lanjutan Sebelum Iblis Menjemput pertama yang meraih kesuksesan dengan penonton lebih dari 1 juta orang.

Berkisah tentang kelanjutan teror iblis yang terus menghantui Alfie, film ini menjadi film yang paling dinanti oleh para penggemar film horor Indonesia. Tak heran jika film ini ditonton lebih dari 860 ribu penonton di bioskop.

5. Mangkujiwo

Film indonesia terbaik lainnya yaitu Mangkujiwo. Film horor ini berkisah tentang asal usul lahirnya kuntilanak bernama Kanti, seorang wanita hamil yang memilih bunuh diri karena perseteruan petinggi keraton. Film yang dibintangi oleh Sujiwo Tejo, Yasamin Jasem, Asmara Abigail, dan lainnya memiliki kisah yang menarik hingga berhasil ditonton sebanyak 830 ribu penonton Indonesia.
(Viona Bono Valvinka)

Continue reading 5 Film Indonesia Paling Banyak di Tonton Tahun 2020

Minggu, 08 November 2020

Sistem Pembelajaran Menarik di Politeknik Negeri Jakarta

situs resmi PNJ
sumber : Google



Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak selalu universitas atau institut, dari banyaknya piihan untuk melanjutkan pendidikan, salah satunya yaitu Politeknik. Politeknik merupakan perguruan tinggi yang hanya menyelenggarakan pendidikan vokasi dan menyiapkan peserta didiknya untuk siap bekerja. Di samping itu, perguruan tinggi ini juga dituntut untuk memberikan pengalaman belajar dalam membentuk keahlian dan keterampilan dalam suatu ilmu pengetahuan. 

Politeknik Negeri Jakarta atau PNJ, merupakan perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan program vokasi yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan SDM profesional di industri, baik industri jasa maupun industri manufaktur.  

Dahulu Politeknik Negeri Jakarta merupakan fakultas non gelar teknologi Universitas Indonesia (FNGT-UI), yang kemudian menjadi Politeknik Universitas Indonesia. Politeknik Universitas Indonesia didirikan 20 September 1982, hingga pada tanggal 25 Agustus 1998 melepaskan diri menjadi lembaga mandiri dengan nama Politeknik Negeri Jakarta berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Politeknik Negeri Jakarta menerapkan sistem pembelajaran yang mirip dengan dunia lapangan kerja, serta mengedepankan praktik langsung. Maka mahasiswa diharapkan sesudah lulus mengusai teknik-teknik yang diajarkan di perkuliahan dan menghasilkan lulusan yang rofesional serta memenuhi kualifikasi industri. 

Selain sistem pembelajaran yang berbeda dengan universitas lain, Politeknik Negeri Jakarta juga memiliki fakta menarik lainnya, Berikut fakta menarik kuliah di Politeknik Negeri Jakarta :


1. Sistem Pembelajaran yang Berbeda dengan Universitas atau Institusi Lainnya

Di Universitas atau Institut biasanya mahasiswa akan banyak mempelajari teori daripada praktek, berbeda dengan Politeknik Negeri Jakarta. Di PNJ mahasiswa menerapkan sistem teori 45% dan praktik 55%, dengan mempertemukan ilmu dan teknologi yang sesuai komposisi  untuk menghasilkan lulusan yang profesional dan memenuhi kualifikasi industri. Sistem ini membuat mahasiswa siap dan tanggap untuk dapat terjun ke dunia industri saat mereka lulus.

Berbeda dengan universitas lain yang memilih SKS (Satuan Kredit Semester) dalam satu semester, mahasiswa PNJ tidak bisa memilih SKS karena jadwal mata kuliah (tidak bisa ditambah atau dikurang) yang sudah ditetapkan oleh setiap jurusan. Sistem paket yang dimaksudkan yaitu setiap mahasiswa wajib mengikuti semua mata kuliah yang tercantum dalam kurikulum dengan total SKS per semester.
 

2. Lebih Banyak Kuliah Praktikum 

PNJ lebih mengutamakan praktik dengan sistem perkuliahan, menggunakan sistem paket dengan jumlah SKS yang disesuaikan dalam industri. Begitu pun dengan Praktik Industri, misalnya program Diploma 3 yaitu belajar teori dan praktik selama lima semester dan satu semester digunakan untuk magang di industri. Dengan pola ini, mahasiswa politeknik memiliki keahlian sesuai yang dibutuhkan oleh industri. 


3. Naik Bipol atau Bikun?

Mengingat jumlah mahasiswa yang sangat banyak, PNJ menyediakan bipol atau bus poltek untuk memudahkan mahasiswa saat pergi dan pulang dari kampus. Selain bipol, mahasiswa juga diperbolehkan menaiki bikun (bus kuning) Universitas Indonesia karena rute yang sama. namun, pemberhentian bikun hanya sampai halte depan PNJ sehingga mahasiswa harus berjalan kaki kedalam sekitar 400 m.


4. Jurusan Teknik atau Jurusan Niaga ?

Mahasiswa jurusan Teknik lebih mendominasi kaum pria daripada wanitanya. Sedangkan mahasiswa jurusan niaga, seperti: akuntansi, administrasi disebut dengan kampus puteri, tetapi dengan begitu tidak ada diskriminasi gender pada mahasiswa PNJ. Terbagi menjadi 2 jurusan umum yaitu Jurusan Teknik dan Niaga. Jurusan Teknik terdiri dari Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Informatika dan Komputer, Teknik Grafika dan Penerbitan. Sedangkan Jurusan Niaga terdiri dari Akuntansi dan Administrasi Niaga   

5. Program Kerjasama 

Politeknik Negeri Jakarta melakukan beberapa program kerjasama dengan sesama institusi pendidikan maupun industri, Para lulusan SLTA diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan diploma pada Program Kerjasama PNJ dengan beberapa lembaga/ Institusi/ perusahaan, baik dalam maupun luar negeri. Para lulusan program kerjasama ini langsung diangkat menjadi karyawan, antara lain :

  • Kerjasama dengan Badak LNG - LNG Academy
  • Kerjasama dengan Holcim - Holcim Academy
  • Kerjasama dengan Asia e-University Malaysia
  • Kerjasama dengan GMF Aeroasia - Garuda Indonesia
  • Kerjasama dengan PT Solusi Bangun Indonesia TBK
  • Kerjasama dengan CCIT FT Universita Indonesia
  • Kerjasama dengan PT Formosa Teknologi Sentral
  • Kerjasama dengan B2PLKLN (BLK Cevest Bekasi)
Continue reading Sistem Pembelajaran Menarik di Politeknik Negeri Jakarta

Sabtu, 24 Oktober 2020

Kegiatan Wisuda dan Dies Natalis Kampus PNJ pada Masa Pandemi

 

Sumber: Instagram Gemagazine_pnj


kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menggelar wisuda ke-36 dan dies natalis ke-38 bersamaan pada Sabtu, 24 Oktober 2020 di Trans Studio Cibubur. Karena Pandemi Covid-19 yang belum usai, maka wisuda ke-36 dan dies natalis ke-38 diadakan secara hybrid yaitu memadukan sebagian peserta yang hadir secara langsung (offline) dan lainnya hadir secara online.

Mengusung tema " Dengan Sistem Pendidikan Berbasis Industri, Pnj Meluluskan Tunas Bangsa yang Kompeten, Berkarakter, dan Berdaya Saing Internasional ", wisuda ini ini diikuti 2.173 orang dengan rincian 1.064 wisudawan dan 1.109 wisudawati yang berasal dari berbagai jurusan dan program studi di kampus PNJ.

Sebanyak 677 orang atau 31% diantaranya meraih predikat cum laude. Rincian jumlah wisudawan/wisudawati setiap jurusan adalah Magister Terapan Teknik Elektro 14 orang, Jurusan Teknik Sipil 228 orang, Jurusan Teknik Mesin 287 orang, JurusanTeknik Elektro 414 orang dan Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan 347 orang.


Kemudian, Jurusan Akuntansi 327 orang, Jurusan Administrasi Bisnis 219 orang, Jurusan Teknik Informatika dan Komputer 236 orang, Program Studi Manajemen Pemasaran WNBK 27 orang, PDD AKN Kota Pekalongan 37 orang dan PDD AKN Kabupaten Demak 37 orang.


Termasuk di dalam para wisudawan/wisudawati tersebut ialah para siswa program kerja sama PNJ dengan berbagai industri dan perguruan tinggi. Antara lain, kerja sama dengan PT Badak LNG, PT PLN, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk., PT Solusi Bangun Indonesia, CCIT Universitas Indonesia, AKN Pekalongan, AKN Demak, Swadharma dan STTJ.


Adapun lima lulusan terbaik tahun ini, yaitu Fajar Wahyuni Prodi D4 Akuntansi Keuangan dengan IPK 3,91 dengan penghargaan Juara 1 Battle of Accounting 2020 ditingkat nasional serta penerima beasiswa S2 dari PNJ, Gita Christiani Putri Prodi D4 Teknik Industri Cetak Kemasan dengan IPK 3,91, Satria Arief Aditya prodi Magister Terapan Teknik Elektro dengan IPK 3,77. 


Serta lulusan terbaik non akademik yaitu Nurul Asma dari Prodi D3 Telekomunikasi dengan IPK 3,04 penerima medali emas Taekwondo Valentino CUP GAP Open dan sebagai juara 3 kategori umum tingkat nasional tahun 2018.


Continue reading Kegiatan Wisuda dan Dies Natalis Kampus PNJ pada Masa Pandemi